Penting : Menanamkan Sikap Mandiri dan Bekerja Keras Pada Anak


Ibnul Qoyyim berkata, " Orang tua hendaknya menjauhkan anaknya dari kemalasan pengangguran bersantai dan bersenang-senang. Hendaklah anak dididik dengan menerapkan hal yang kebalikannya, Janganlah anak dibiarkan bersantai-santai kecuali untuk mengistirahatkan jiwa dan badannya dari aktivitas yang telah dilakukan. Karena bermalas-malas dan bersantai-santai mempunyai akibat yang buruk dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Adapun kesungguhan dan kerja keras membuahkan hal yang terpuji di dunia, akhirat atau di dunia dan akhirat. Orang yang paling baik kesudahannya ialah orang yang paling lelah. Dan orang yang paling lelah pada permulaanya ialah orang yang paling senang kesudahannya. Kejayaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat hanya dapat diraih melalui jerih payah yang melelahkan".

Yahya bin Abi Katsir juga berkata," Ilmu itu tidak akan diperoleh dengan bersantai-santai." Anak sebaiknya juga di biasakan bangun pada akhir malam karena itu merupakan waktu pembagian keberuntungan. Ada yang mendapatkan sedikit ,ada yang mendapatkan banyak, dan juga ada yang tidak mendapatkannya sama sekali.

Sehubungan dengan hal ini kita lihat Rasulullah begitu memperhatikan pengembangan bakat anak di bidang sosial dan ekonomi dalam rangka membangun rasa percaya diri dan kemandirian. Dengan demikian anak dapat berinteraksi dengan berbagai unsur yang ada di dalam tubuh masyarakat sekaligus dapat pula mengukur potensi yang ada di dalam dirinya, kemudian mengambil manfaat dari pengalamannya yang makin menyuburkan rasa percaya diri. Sehingga jadilah Dia seorang yang menjalani hidupnya dengan penuh kesungguhan Dan keberanian serta tidak ada lagi unsur kemanjaan yang masih tersisa dalam dirinya karena telah menjadi seorang yang benar-benar dewasa.

Amru bin Hurayyits telah menceritakan bahwa Rasulullah berjumpa dengan Abdullah bin Ja'far yang sedang berjualan barang-barang yang layak dijual oleh anak-anak seusia dengannya. Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah berkatilah jual belinya.

Berita itu merupakan adegan paling besar yang disaksikan oleh Nabi. Abdullah bin Ja'far adalah sepupu nabi sendiri. Ayahnya adalah Panglima pasukan kaum muslimin yang gugur Syahid dalam perang mu'tah. Dia bernama Ja'far At Thayyar. Dia dijuluki At Thayyar (penerbang) karena dia terbang dengan kedua sayapnya di dalam surga. Namun demikian saat Nabi Muhammad melihat Putra sepupunya berjualan di pasar, menjual kulit yang sudah disamak dan qirbah (wadah air yang terbuat dari kulit) serta barang-barang lainnya, beliau tidak merasa malu meskipun Ahlul Bait nabi adalah orang yang paling mulia menurut Allah dan menurut pandangan manusia. Nabi tidak melarangnya berjualan bahkan mendoakannya agar diberkati. Nabi tidak mengangkatnya sebagai kepala Baitul Mal tetapi membiarkannya mandiri. Bagaimana tidak sementara beliau sendiri pernah berdoa ya Allah jadikanlah rezeki keluarga Muhammad cukup untuk (kebutuhan) pangannya. 
Yakni rezeki yang yang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Enggak lah para pemimpin dunia mengambil pelajaran dari sikap pemimpin terbesar umat manusia ini.

Jadi usaha mencari rezeki makan dari hasil kerja sendiri serta mempunyai pekerjaan tetap dan keahlian praktis merupakan unsur-unsur yang dapat melindungi harga diri seorang muslim, janganlah menjadi beban bagi orang lain dan meminta-minta.

Sehubungan dengan hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda,

" Sungguh Allah menyukai seorang mukmin yang mempunyai keahlian (At Thabrani).

Yakni orang yang memiliki keahlian dan keterampilan.

Ummu Salamah berkata pada masa Rasulullah, Abu Bakar selalu keluar dagang ke Bushra. Bahkan Nabi Nuh membuat bahtera sendiri atas perintah Rabnya. NAbi Daud adalah seorang pandai besi dan ahli membuat baju zirah yang terbuat dari besi bahkan Nabi sendiri pun adalah seorang yang pandai berdagang.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mempunyai keahlian yang dikuasai nya seperti pertukangan dan sebagainya.

Dr. Abdullah Al Qadiri merenungkan keadaan para pemuda Muslim pada masa sekarang dan sikap mereka yang suka bermalas-malasan dan hidup santai yang semua itu dapat menjerumuskan mereka ke dalam kehidupan yang manja dan berfoya-foya, tiada lain karena berlimpahnya waktu luang yang telah diturunkan Allah kepada mereka.Tetapi sayangnya mereka tidak mensyukurinya dengan melakukan berbagai kegiatan dan kesibukan yang berguna bagi diri mereka sendiri dan juga bagi masyarakat baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti.

Bahkan mereka memenuhi waktunya hanya untuk bermain-main dan bersenang-senang yang diperbolehkan maupun yang diharamkan. Sehingga jadilah kebanyakan dari mereka Tak ubahnya bagaikan gerombolan hewan yang mengancam keamanan, darah dan kehormatan orang lain. Orang yang merenungkan fenomena tersebut akan melihat jelas hikmah yang terkandung dibalik nash-nash Alquran, sunnah dan pendapat para ulama yang memperingatkan ikan bahaya bersantai menganggur dan bermalasan. Tiada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Oleh karena itu nabi membiasakan anak kecil beraktifitas dan memikul tanggung jawab. Karenanya tidak ada larangan bila orangtua menyuruh anaknya agar menyiapkan hidangan makan sendiri sehingga ia bisa membantu orang lain. Tentu hal seperti ini lebih baik daripada menjadi anak yang malas dan membebani orang lain.

*Referensi : Buku Islamic Parenting 

4 komentar:

  1. Orang tua nya juga jangan malas untuk memfasilitasi anaknya belajar dan bermain...

    BalasHapus
  2. Orang tua menjadi peran penting untuk anak-anaknya. karena anak-anak membutuhkan perhatian dari orang tuanya sehingga pola asuh menjadi utama untuk anak.

    BalasHapus
  3. Banyak anak dijaman sekarang yang lenjeh, manjah, dan tidak mandiri. Itu juga diakibatkan oleh orangtua yang tidak membiasakan menjadi mandiri dan bekerja keras. Semoga orangtua di luar sana juga tidak terlalu memanjakan anaknya agar mereka bisa mandiri dan bekerja keras.

    BalasHapus

Pages