Bukan Sembarang Ayah



Judul     : Ayah
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : XIII
Jumlah halaman : 324

Mudah untuk menjadi ayah yang baik, namun tidak gampang menjadi ayah yang inspiratif. Ayah adalah lambang kekuatan, sebab ayahlah yang berperan sebagai tulang punggung yang akan menopang tegaknya sebuah keluarga.

Butuh kesabaran dan kegigihan agar anak-anak bangga memiliki orang tua seperti kita. Saya pikir, Buya Hamka telah sukses menjadi seorang ayah, kalau diibaratkan dengan tingkat kelulusan, Buya lulus dengan predikat cumlaude.

Lihatlah betapa bangganya Irfan Hamka terlahir sebagai anak kelima dari Buya dan Ibunya H. Siti Raham Rasul. Tak hanya Irfan, pembaca pun turut bangga akan sosok ulama serba bisa ini.

Irfan menceritakan kisah Buya sejak muda, dewasa, menjadi ulama, sastrawan, politisi hingga kepala rumah tangga ditulis menjadi 10 bagian dengan jelas dan menarik. 

Pertama, ada 3 nasehat Buya, nasehat bagi rumah tangga, nasehat untuk tetangga dan nasehat untuk pembohong. Disetiap nasehatnya, Buya tidak pernah melarang maupun menyarankan, namun hanya memberitahukan apa yang dianjurkan agama. Peminta nasehatlah yang mengambil keputusan akhir. 

Kedua, didikan Buya kepada anak-anaknya. Mulai dari mengajar ngaji, mengajarkan shalat, mengajar silat, mengajarkan pendidikan moral, akhlak, dan menjadi seorang pejuang, semua Buya lakukan dengan penuh wibawa. Tak ada satu hal pun yang beliau ajarkan yang tidak mengandung hikmah.

Ketiga, berdamai dengan Jin. Di rumah yang dibangun tahun 1956, banyak kejadian menyeramkan. Seperti ayunan yang sering goyang sendiri, suara-suara aneh, bahkan ketokan pintu tak bertangan yang sering mereka dengar. Setelah sekian lama diganggu, akhirnya Buya mengajak seluruh keluarga untuk berdamai dengan para jin. Luar biasa, tak sekalipun merasa marah. Sebaliknya, buya malah menghargai dan mengajak berdamai. 

Keempat, lima, dan keenam, kejadian yang tak kalah membuat bulu merinding, betapa Allah Maha Melindungi. Buya, Ummi , Irfan dan Supir selamat dari angin topan gurun pasir. Supir mengendarai sambil tidur, dan terjangan air bah disepanjang perjalanan Baghdad menuju Mekkah.

Ketujuh, Ummi untuk Buya. Menjadi istri dari Buya tidak mudah, banyak fitnah dan cacian. Ummi tidak lemah, bahkan saat buya ditahan saat rezim Soekarno kekuatan Ummi membuat Buya merasa sangat kehilangan saat Ummi meninggal. Dan ketika Buya merindukan Ummi begitu kuat, beliau wudhu, sholat taubat, dan membaca Al-Quran dengan suara yang sangat keras. Itulah tanda cintanya kepada Ummi. 

Kedelapan, kisah si kuning, kucing kesayangan Buya. Karena kasih sayang yang buya berikan kepada si kuning begitu lembut, si kuning sangat gelisah ketika Buya ditahan Soekarno. 

Kesembilan, Buya memaafkan dengan tulus ketika difitnah. Meskipun yang mencercahnya adalah tokoh besar seperti Moh. Yamin, Soekarno, dan Pramoedya Ananta Toer. Karena Soekarno, Buya dipenjara selama 2,4 tahun. Karena Moh. Yamin dan Pramoedya, Buya dijatuhkan harga dirinya. Namun, pada akhirnya, Soekarno meminta Buya menjadi imam jika beliau meninggal, Yamin memintanya membimbing syahadat disaat sakaratul mautnya, dan Pramoedya mengutus anak dan calon menantunya untuk belajar Islam. 

Kesepuluh, betapa Buya sudah menjalani masa hidupnya dengan begitu banyak manfaat untuk ummat, sakit yang beliau derita tak pernah beliau keluhkan. Bahkan saat terbaring lemah dirumah sakit, beliau tak sedetikpun lupa akan Allah. 

Buku ini sangat menginspirasi, semoga guru Indonesia mampu melahirkan Buya Hamka berikutnya. 

3 komentar:

  1. Subhanallah, menjadi seorang Ayah yang inspiratif untuk keluarga dan ummat tentunya bukan peran yang mudah. Namun selalu ada jalan menuju kebaikan. Semoga para Ayah bisa meneladani kisahnya, sehingga nantinya tumbuhlah generasi Buya Hamka yang gigih dan cemerlang. Amin.

    BalasHapus
  2. The Good Teacher, the good daddy, and the good people, Buya Hamka...

    BalasHapus

Pages