Meningkatkan Minat Baca Untuk Kecerdasan Bangsa

Guru Blogger | Mas santo
Susantomadani.com | Guru Blogger - Meningkatkan Minat Baca Untuk Kecerdasan Bangsa 

Susantomadani.com | Guru Blogger

Pepatah pernah mengatakan kalau membaca adalah jendela dunia, sarana meraih ilmu pengetahuan sekaligus untuk meningkatkan kecerdasan. Tapi sayangnya, pepatah tersebut tak seindah kenyataanya, masih bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Indonesia pada masa sekarang.

Fakta menunjukkan kalau kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membaca terbilang masih sangat rendah. Berdasarkan indeks nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01 saja. Padahal, rata-data indeks tingkat membaca di negara-negara maju sudah mencapai kisaran angka 0,45 hingga angka 0,62.

Kemudian, jika merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, dari sekitar 1000 orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Dengan kondisi tersebut, mengakibatkan Indonesia berada pada posisi 108 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2014.

Lebih lanjut, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2012 juga pernah mengeluarkan survei yang menyebutkan, hanya sekitar 17,66 persen masyarakat yang memiliki minat membaca. Baik membaca surat kabar, buku, ataupun majalah.

Sementara, untuk konsumsi satu surat kabar dengan para pembacanya, Indonesia memiliki rasio yang rendah yakni 1 berbanding 45 orang (1:45). Rasio tersebut sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina yang tingkat perbandingannya sudah mencapai 1:30. Idealnya, satu surat kabar harusnya dibaca oleh 10 orang atau dengan rasio 1:10.

Fakta-fakta diatas tentu sangat memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan peradaban suatu bangsa. Jika generasi pada masa sekarang memiliki minat baca yang rendah, bagaimana mungkin bisa diharapkan untuk membangun negeri, apalagi untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam persaingan global. Tentu hal ini perlu kita benahi dan sikapi bersama.

Lebih Gemar Menonton dan Internetan


Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat, 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun lebih gemar menonton televisi ketimbang membaca buku. Padahal, seperti yang kita ketahui, berbagai tayangan di Televisi pada masa sekarang sangat jauh dari hal yang bersifat mendidik sehingga kelayakannya untuk ditonton patut dipertanyakan.

Lihatlah betapa menjamurnya sinetron- sinetron kejar tayang dengan berbagai judul yang senantiasa bermunculan, umumnya sinteron-sinetron tersebut tak jauh dari cerita cinta-cintaan, dengan memamerkan gaya hidup hedonis yang dibumbui rasa kebencian dan permusuhan. Tak hanya itu saja, acara-acara musik dengan berbagai settingan dan nama juga senantiasa ada menghiasi layar kaca kita. Padahal, isi yang dipertontonkan lebih banyak mengandung program bully-bully-an (saling-cerca) antar host ketimbang acara musiknya. Tentu kita masih ingat, dengan tayangan tidak mendidik dari program musik salah satu musik di TV swasta dengan bintang tamunya  yang melecehkan simbol dan lambang negara hingga mendapat sanksi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Selain menonton, kehadiran internet juga banyak menyita waktu masyarakat Indonesia. Hal tersebut terbukti dari berbagai temuan yang ada, Indonesia senantiasa masuk dalam 10 besar negara di dunia yang aktif dalam menggunakan sosial media.

Hadirnya internet dan sosial media tersebut secara tak langsung berhasil “meninabobokkan” para generasi muda untuk mengukir peradabannya dengan rajin membaca. Hingga banyak memunculkan generasi “melempem” karena cuma bisa memamerkan status “baper” hingga berpose alay dalam masing-masing sosial medianya, baik di Facebook, Twitter, BBM hingga Instagram.

Yang Harus Dilakukan


Bila kondisi seperti ini terus berlangsung dan tidak diantisipasi dari sekarang, bukan tidak mungkin kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita akan senantiasa tertinggal dari negara-negara lain hingga menyulitkan Indonesia untuk bisa bersaing di kancah global. Lalu apa yang harus dilakukan?

Pemerintah punya andil untuk mendorong dan meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengkampanyekan program Nasional Sadar Baca untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Taufik Ismail, negara harus berani mewajibkan para siswa untuk menamatkan puluhan judul buku bacaan sebagai salah satu syarat utama dalam kelulusan sekolah, hal seperti ini juga sudah dilakukan oleh negara-negara maju di berbagai dunia.

Taufik Ismail mencontohkan, di Jerman, Prancis, dan Belanda, para siswa sekolah menengah atas (SMA) diwajibkan untuk menamatkan 22-23 judul buku sebelum mereka lulus sekolah. Sedangkan di Indonesia, sejak tahun 1950 hingga sekarang tak ada kewajiban dari sekolah ataupun pemerintah kepada para siswanya untuk menamatkan satu judulpun buku bacaan.

Oleh karena itu, tak ada salahnya jika pemerintah mau berbesar hati dan menerima nasihat dari Taufik Ismail tersebut untuk kebaikan bersama.

Program- program tersebut tentunya juga harus di dukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, seperti penyediaan buku bacaan, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan yang ada di masyarakat.

Partisipasi dari masyarakat juga sangat dibutuhkan, terlebih dengan menanamkan budi pekerti kepada anak-anak dari ligkup rumah tangga bahwa membaca adalah bagian dari perintah agama. Dengan demikian, diharapkan kecintaan membaca sejak dini sudah lahir sehingga dapat menjadi bekal untuk generasi masa mendatang.

Dengan demikian, cita-cita untuk mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca diharapkan dapat terwujud, agar bangsa kita dapat menjadi bangsa yang bermartabat sehingga bisa berpartisipasi dan memainkan perananannya dalam kemajuan dan peradaban dunia.

Tulisan ini pernah di terbitkan Harian Analisa, edisi 22 Maret 2016

2 komentar:

Pages